Saturday, 25 October 2014

Perihal Masa

Masa.

Seringkali perkataan ini menjadi bicara tidak kiralah orang agama,ahli akademik hatta Pak Ramli tukang tebar roti canai pon membicarakan hal ini. Kebiasaan isu yang dikaitkan dengan masa sudah pastilah tentang kelewatan.

Kata guru,”kamu kalau datang sekolah pun lewat, jangan haraplah bila kamu kerja nanti kamu boleh awal.”

Kata bos,”kamu kalau lewat lagi selepas ini, jangan salahkan saya andai gaji dipotong. Malah lebih teruk lagi, saya boleh PECAT kamu.”

Bahkan kitab agung umat Islam yakni AlQuran juga membicarakan perihal masa.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada di dalam kerugian. Melainkan orang yang beriman dan beramal soleh, dan berpesan-pesan kepada kebenaran dan juga kesabaran.”
[Surah Al-A'sr : 1-3]

Begitu pentingnya perihal masa namun mengapa kita masih leka lagi diulit mimpi? Ah, tidak mengapalah. Mungkin kita merasakan kita sudah berada di dalam zon comfort, tidak perlu berbuat apa kerana mak ayah kita orang yang kaya, tunggu sahaja mereka meninggal dan harta pusaka mereka kitalah yang punya. Hah, mungkin kita sudah selamat dan boleh buncitkan sahaja perut di dunia ini. Namun persoalannya adalah bagaimana pula kita di akhirat nanti?

Hah..menjawab persoalan tadi, Allah sendiri sudah memberikan solusi.
Solusinya ialah:
1) Menjadi orang yang beriman.
2) Melakukan amal-amal soleh
3) Berpesan-pesan dengan kebenaran
4) Berpesan-pesan dengan kesabaran

Timbul pula persoalan, mengapa dipisahkan antara kebenaran dan kesabaran?mengapa tidak disatukan dan membentuk ayat “berpesan-pesan kepada kebenaran dan kesabaran” sahaja?
Telah disyarahkan bahawa yang dimaksudkan dengan keempat-empat kriteria itu ialah
1)beriman yang dilandasi dengan ilmu.
2)Mengamalkan ilmu
3)Berdakwah kepada Allah
4)Bersabar atas semua itu.

Imam Syafie berkata,
”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.”

Namun, seperti yang saya katakan tadi, sayangnya hanya berapa kerat sahaja manusia yang menghayati benar2 pengertian surah ini.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Kerana seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul]. 

Moga-moga semangat tahun baru ini(awal Muharram) mampu merubah kita ke arah Muslim yang lebih progresif.Insyaallah.

Sekian.

Rahman Nilam.

Pelajar semester 1 asasi UIAM Petaling Jaya

Friday, 24 October 2014

Puisi Anak Muda

Anak Muda Inteligensia
Wahai Anak Muda Inteligensia
masa muda masa kita
masa muda Salehuddin Al-Ayubi membuka kota Al-Aqsa
masa muda al-fateh menaiki takhta
tapi kita bagaimana???
masa kita penuh dengan urusan dunia yg sia
sibuk dengan bola dan sinema
asyik dengan lepak dan bergembira
Wahai anak muda inteligensia
Dunia perlukan kita
Umat menanti kita
Apa guna ilmu di dada andai hafal kosong semata
Apa guna idea-idea hanya simpan tidak diguna
Sudah tiba masa kita ubah dan buktikan pada dunia
Anak muda inteligensia bukan biasa-biasa
Kita ini luar biasa
Ayuh keluar dari dunia kita yg sia dan meyumbang untuk mereka di luar sana
Isi masa dengan belajar dan membaca
Sumbang idea sumbang tenaga korbankan masa
Untuk diri dan umat semua
Ayuh anak muda intelegensia
Bangkit dari lena yang lama
Kita bangkit gegar dunia!




PEBGERTIAN DAN PERANAN INTELEKTUAL

Intelektual(cendekiawan) ialah individu berilmu dan memiliki rasa tanggungjawab untuk mencari dan mewujudkan “kebenaran” sesuai dengan cabaran dan tuntutan zaman.Komitmen mereka adalah untuk membentuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.Perkataan intelektual bermaksud memiliki atau memperlihatkan kekuatan-kekuatan kognitif dan daya pemahaman yang baik. Kata intellect pula bermaksud “kekuatan pemikiran yang menjadi alat penalaran”. Di samping itu, intellect juga bermaksud “orang yang mempunyai potensi berfikir secara sebenarnya”. Secara unmumnya,pengertian intelektual dapat disimpulkan sebagai “pemikir-pemikir” yang memiliki kemampuan menganalisis masalah-masalah tertentu.

               Dalam konteks pemahaman yang umum, intelektual sering diasosiasikan(baca:dikaitkan) dengan sarjana dan ilmuwan. Sarjana ialah orang yang lulus daripada institusi pengajian tinggi. Kuantiti mereka dalam masyarakat tinggi universiti melahirkannya setiap tahun. Ilmuwan pula ialah orang yang mendalami sesuatu ilmu dalam sesuatu bidang lalu mengembangkan ilmunya. Hanya beberapa orang sarjana akan berkembang menjadi ilmuwan. Sebahagian besar ilmuwan akan menjalani aktiviti harian yang berulang dan menjadi “tukang-tukang profesional”.

               Golongan intelektual tidak semestinya kelompok sarjana yang melalui pendidikan tinggi dan menyandang berbagai-berbagai gelaran akademik. Golongan intelektual juga bukan sekadar ilmuwan yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka ialah kelompok yang berasa tanggungjawab untuk memperbaik kondisi sosial dan melakukan bimbingan kepada masyarakatnya. Mereka memahami aspirassi massa serta merumuskannya ke dalam bahasa yang dapat difahami oleh setiap orang dan menawarkan strategi dan alternatif untuk menyelesaikan masalah. Walaubagaimanapun,pengertian intelektual ini bervariasi kadangkala bercanggah serta kesepakatan mengenainya.

               Menurut James Maccregor dalam bukunya Leadership,intelektual ialah “a devotee of ideas,knowledge and values” atau seorang yang terlibat secara kritis dengan nilai,tujuan dan cita-cita yanh diperjuangkan. Sementara George A. Theodorsan dan Archillies G. Theodorson dalam buku A Modern Dictionary of Sociology mendefinisikan intelektual sebagai “anggota masyarakat yan mengabdikan diri kepada pengembangan gagasan asli dan terlibat dalam usaha-usaha intelektual kreatif. Kaum intelektual merupakan sebuah segmen yang kreatif dari lapisan inteligensia. Mereka memberikan kepemimpinan intelektual kepada lapisan intelegensia lainnya.”

               Seorang ahli sosiologi tersohor, Edward Shills yang terkenal dengan kajian-kajiannya tentang tentang dunia intelektual menyatakan bahawa intelektual ialah orang-orang terpilih dalam masyarakat yang sering menggunakan simbol-simbol bersifat umum  dan rujukan abstrak tentang manusia,masyarakat,alam dan kosmos. Lebih lanjut lagi Shills dalam tulisannya The Intellecttuals and the Powers: Some Perpective for Comparative Analysis, menyatakan bahawa kaum intelektual ialah orang yan mencari “kebenaran”,mencari prinsip-prinsip yang terkandung dalam kejadian-kejadian serta tindakan, atau dalam proses penyaluran hubungan baik antara peribadi(the self) dan hakikat(the essential), baik hubungan yang bercorak pengenal(cognitive), penilaian(appreciative) atau pengutaraan(expressive). Menurut Shills lagi,tugas intelektual ialah “mentafsirkan pengalaman masalah, mendidik pemuda dalam tradisi dan ketrampilan masyarakatnya;membimbing pengalaman estetik dan keagamaan dalam berbagai-bagai lapisan masyarakat”. Bagi Lewis Coser pula dalam tulisannya Man of Ideas, intelektual ialah orang yang kelihatannya tidak pernah puas menerima kenyataan sebagaimana adanya. Mereka mempersoalkan kebenaran yang berlaku pada suatu ketika dalam hubungannya dengan kebenaran yang lebih tinngi dan luas.

               Daripada beberapa pengertian tersebut, terlihat bahawa intelektual berbeza dengan inteligensia tersebut. Pada umumnya inteligensia  dirumuskan sebagai “oran terpelajar”, khususnya individu yang menamatkan pengajiannya di universiti. Tentang perbezaan intelektual dan intelegensia memiliki minat intelektualnya yang secara fundamental bersifat “teknik”, sedangkan intelektual memiliki minat intelektual yang umumnya kritis,abstrak,hermenutik dan politik. Dengan demikian, jelas bahawa intelektual tidak sama dengan inteligensia. Intelektual, boleh jadi bukan lulusan universiti dan mungkin saja berkelulusan sekolah rendah. Namun begitu mereka mampu mengembangkan pemikirannya, mampu berfikiran bebas, mencakup pengamatan yang cermat terhadap gejala-gejala di sesuatu lingkungan, pemahaman tentang sebab gejala itu dan hubunnganya dengan gejala lain. Pada akhirnya,seseorang intelektual akan merumuskan sesuatu kesimpulan yang daptat disampaikan kepada masyarakat dalam bahasa yang jelas.[1]

               Sehubungan dengan penerangan di atas,maka puisi ini ditulis untuk mengajak anak-anak muda terutamanya golongan mahasiswa(yang bakal menjadi sarjana) untuk menyedari hakikat sebenar menjadi golongan inteligensia bukan hanya menjadi ‘hasil kilang’ universiti(baca:menjadi pekerja semata-semata) tetapi menjadi golongan inteligensia yang membawa makna intelektual yang sebenar yang mampu menjadi agen penyemai yang baik untuk merawat masyarakat yang semakin rosak membusuk hasil baja-baja  modenisasi hari ini. Mejadi golongan ‘inteligensia yang berintelektual’  ini bukan hanya tugas ‘kesukarelawanan’  tetapi mejadi tangungjawab kepada setiap mahasiswa pelbagai bidang baik agama mahupun profesional. Akhir kata.baca,hayati dan fahami petikan ini:

                              ‘Golongan intelektual tidak semestinya kelompok sarjana yang melalui pendidikan tinggi dan menyandang berbagai-berbagai gelaran akademik. Golongan intelektual juga bukan sekadar ilmuwan yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka ialah kelompok yang berasa tanggungjawab untuk memperbaik kondisi sosial dan melakukan bimbingan kepada masyarakatnya. Mereka memahami aspirassi massa serta merumuskannya ke dalam bahasa yang dapat difahami oleh setiap orang dan menawarkan strategi dan alternatif untuk menyelesaikan masalah’

Semoga Allah merahmati kalian.Wallahu’alam.Sekian

Adam Nasir,24 Oktober 2014

*ex-I.Q.RaC 13/14 dan sekarang menuntut di CFS IIUM,PETALING JAYA dalam bidang undang-undang.



[1] Dipetik daripada buku Shaharom TM Sulaiman,Dunia Pemikiran Intelektual:menelusuri karya-karya intektual terpilih, ‘Pengertian dan Peranan Intelektual’.

Thursday, 23 October 2014

Aku & 'Cikgu Din'



"Cikgu Din bukan Tuah si pak turut. Bukan juga Jebat si kaki amuk. Cikgu Din ialah Cikgu Din. Pahlawan sebenar."

Bismillahirrahmanirrahim...

'Cikgu Din' merupakan sebuah judul cerpen yang telah dimuatkan bersama dalam kompilasi CERPEN karya Nadia Khan terbitan FIXI pada tahun 2012. Bersama 19 lagi cerita-pendek di dalam kompilasi ini, karya penulis muda yang satu ini telah berjaya memikat hati saya. Lantas saya berasa terpanggil untuk berkongsi dan  menterjemahkannya dalam bentuk artikel ringkas ini.

Kisah Cikgu Din bermula dengan satu sesi pembelajaran dalam sebuah kelas yang terdiri daripada pelajar pelbagai ras dan fe'il perangai. Cikgu Din, merupakan guru matapelajaran Sejarah, membuka sesi perdebatan antara para pelajar dan membahaskan perihal dua pahlawan lagenda Tanah Melayu, iaitu Hang Tuah & Hang Jebat. Para pelajar kelihatan mampu melontarkan hujah-hujah  yang matang yang mungkin tampak tak setaraf dengan rata-rata pelajar sekolah menengah pada masa ini. Sesi tersebut diakhiri dengan penggulungan oleh Cikgu Din dengan memberikan satu solusi terhadap pertelingkahan antara dua pahlawan tersebut, yang berjaya melopongkan mulut para pelajar beliau.

Plot penceritaan kemudian tertumpu kepada cabaran yang dihadapi oleh Cikgu Din disebabkan pembawaan 'pelik' beliau terhadap matapelajaran yang beliau ajar di dalam kelas. Cikgu Din sering kali tidak mengikut modul pembelajaran yang disediakan, dan lebih senang berdiskusi berbanding mengajar. Nyata pembawaan beliau ini menjadi buah mulut tenaga pengajar yang lain di sekolah tersebut. Cabaran lebih besar terpaksa beliau hadapai apabila para pelajar digemparkan dengan kehadiran seorang bapa kepada pelajar Cikgu Din sendiri yang tidak bersetuju dengan kaedah pembelajaran yang dibawa oleh Cikgu Din. Beliau dikatakan cuba menanam doktrin ‘kotor’ ke dalam minda para pelajarnya dan disebabkan hujah remeh tersebut beliau akhirnya diberhentikan daripada mengajar (tindakan yang dikenakan kepada Cikgu Din tidak dikatakan secara jelas oleh penulis, sama ada diberhentikan perkhidmatan atau dipindahkan ke sekolah lain). Namun Cikgu Din tetap mahu menyumbang bakti kepada anak-anak didik beliau dan melontarkan kesudian untuk mengadakan kelas tambahan di rumahnya pada setiap malam. 

CERPEN - Nadia Khan

Anak Muda & Dua Pahlawan

Dalam penggulungan yang dilakukan semasa perdebatan sesama pelajar beliau di awal cerita, Cikgu Din menggambarkan tindakan kedua-dua pahlawan tersebuat sebagai tidak rasional. Hang Tuah dikatakan terlalu menurut perintah Sultan yang zalim, meskipun diarah untuk membunuh saudaranya sendiri. Hang Jebat pula terlalu mengikut perasaan tanpa berfikir secara rasional, kaki amuk. Cikgu Din berpendapat Jebat sebetulnya bertindak secara lebih waras dengan mengadakan pakatan antara Bendahara dan Hang Tuah. Sekiranya pakatan tersebut berjaya, pastinya kedudukan Sultan yang zalim pada waktu itu dapat digulingkan dan kunci bagi perbalahan antara mereka dapat diselesaikan.

Apabila cuba untuk direfleksikan kepada diri kita, tidaklah keterlaluan sekiranya dikatakan adanya 'pewaris' Hang Tuah & Hang Jebat dalam diri masyarakat kita secara amnya, dan khususnya dalam diri anak-anak muda. 'Semangat Tuah' mungkin tersebar luas kepada sesetengah anak muda yang terjebak dengan ajaran 'macai-isme' yang menjadi 'penjilat' kepada sesetengah pihak autoriti atau kelompok politik. Penyakit ini menjadi parah apabila ketaksuban golongan ini akan mengkaburkan atau lebih parah membutakan mata para anak muda terhadap peri laku golongan tersebut. Keadaan ini bukanlah sesuatu yang boleh dibiarkan atau dikembangbiakkan kerana lambat laun akan terlahirnya lebih ramai pak turut yang bukan sekadar tidak mampu berfikiran secara kritis malah dikhuatiri menjadi boneka kepada golongan elitis. Isu wala’ secara membuta tuli adalah salah satu perkara yang heboh dibahaskan dan saya tidak merasakan adanya keperluan untuk dipanjangkan isu ini dalam ruangan yang terbatas ini.

Dalam masa yang sama 'Semangat Jebat' tidak kurang hebat tempelaknya. Sesetengah kelompok anak muda lebih gemar untuk menyatakan respon terhadap sesuatu isu melalui demonstrasi atau flash mob. Kelompok ini tidak kurang hebatnya sumbangan mereka terhadap perjalanan politik negara kita. Lihat sahaja pada kuasa mahasiswa semasa era 70 & 80-an dahulu. Satu persatu gerakan anak muda yang diterajui oleh mahasiswa bisa menggoncangkan kepala lutut para pimpinan negara. Namun corak gerakan kelompok ini kelihatan kian rapuh dasawarsa ini. Mana tidaknya, masakan boleh kelihatan sepanduk 'BINI SENDIRI TAK PAKAI TUDUNG!' semasa membantah kenaikan harga barang atau 'RAKYAT MAKAN KANGKUNG' di celahan para demonstran semasa menbantah Akta Hasutan? Bukan sahaja kelihatan ganjil, tetapi corak pemikiran para peserta kelompok ini paling tidak turut terpantul bersama. Kekaburan identiti serta kesamaran pembawaan, pada hemat saya, menjadi permasalahan besar golongan ini. Justeru, amatlah menjadi kebimbangan sekiranya kelompok ini lebih mengkehadapankan emosi berbanding rasionaliti dan intelektualiti yang mapan dalam gerak kerja mereka. Seharusnya suara para demonstarn ini perlu lebih berfokus dan saya tidak nampak sebarang keperluan untuk menyuarakan suara-suara sumbang berbaur provokatif murahan serta jauh terpesong daripada isu asal yang ingin disuarakan.

Gambar hiasan.

Pada saya, jalan keluar bagi situasi ini tidak lain dan tidak bukan adalah kesedarhanaan dalam tindakan dan keseimbangan antara Idealisma-Intelektualisma-Aktivisma. Kesederhanaan atau wasatiyyah di sini bukanlah bermaksud terma yang digembar-gemburkan oleh satu parti politik tanah air itu, tetapi kesederhanaan yang ditonjolkan oleh ajaran murni Islam. Manakala keseimbangan antara idealisma, intelektualisma dan aktivisma saya kira tidak perlu lagi untuk diperbahaskan kerana memikirkan perbincangan ini telah kerap kali diulang-bahas oleh rata-rata anak muda. Dalam karya ini, saya kira idea yang dilontarkan oleh Cikgu Din sangat bernas dan menepati tuntutan kesederhanaan dan keseimbangan yang saya maksudkan di sini.

Kelayuan Sistem Pendidikan

Usaha yang ditonjolkan oleh Cikgu Din sangat menarik perhatian saya.  Melihat kembali reaksi negatif yang ditonjolkan oleh tenaga pengajar lain terhadap pendekatan ‘pelik’ yang diguna-pakai oleh Cikgu Din, boleh dikatakan kewujudan para pendidik seperti ini masih di dalam angka yang sedikit atau minoriti. Bayangkan berapa ramai pendidik-pendidik di luar sana yang mampu mengenepikan modul yang sedia ada dan menggunakan kaedah yang lebih kreatif dalam pembelajaran? Bukanlah saya bermaksud setiap guru perlu mengadakan diskusi di dalam kelas, tetapi pendekatan yang lebih kreatif dan menarik perlu disesuaikan dengan skop pembelajaran. Tambahan pula subjek Sejarah yang hanya menjadi biawak hidup yang terpaksa dipikul oleh para pelajar tanpa kerelaan yang sebenar, cabaran yang dihadapi oleh tenaga pengajar matapelajaran ini pastinya lebih besar.

Apabila membincangkan soal kualiti dan kredibiliti guru, agak kekok sekiranya kita tidak menyentuh soal kerancakan wacana ilmiah di pusat utama perkaderan para pembina bangsa ini, iaitu Institut Pendidikan Guru (IPG). Saya akui bahawa saya bukanlah insan yang selayaknya untuk membahaskan kekurangan yang wujud pada institusi tersebut dan juga diakui kurangnya akses maklumat yang dapat saya kumpulkan berkenaan sistem dan silibus yang digunapakai di situ. 

Sejujurnya saya mengharapkan agar para mahasiswa dan bakal guru ini turut mampu menjadi agen pembaikpulihan terhadap kebobrokan sistem pendidikan negara, dan nantinya bukan hanya  menjadi mangsa keadaan bagi perubahan sistem oleh pak-pak menteri pada saban tahun, yang mana natijahnya bukanlah sesuatu yang boleh dibanggakan. Para mahasiswa di IPG seharusnya mempunyai kesedaran dan menjadi front- liner dalam membahaskan soal sektor ini. Sayang sekali, apabila timbulnya isu-isu hangat seperti,  isu sekolah vernakular, saya tertanya-tanya dimanakah respon atau paling tidak komentar-komentar daripada para bakal pendidik anak bangsa ini? Yang kelihatan hanyalah reaksi daripada ahli-ahli akademik dan para politikus negara. Tambahan pula paritisipasi dalam aktivisma kemasyarakatan seperti yang dijalankan oleh NGO seperti  Teach For The Needs (TFTN) dilihat hanya melibatkan mahasiswa-mahasiswa daripada institusi pendidikan yang lain. Keadaan ini sangatlah mengharukan kerana seharusnya ruang yang terbuka luas ini diambil oleh sahabat-sahabat dari IPG kerana skopnya lebih dekat dengan mereka(saya sangat mengharapkan sudut pandang saya ini jauh berbeza berbanding realiti sebenar yang berlaku dan mengharapkan respon daripada pembaca berkenaan komentar ini).

Masyarakat & Perubahan

Pada penghujung kisah Cikgu Din ini, digambarkan bahawa penerimaan masyarakat terhadap sesuatu perubahan amatlah negatif. Sebagaimana Cikgu Din dikatakan cuba merendah-rendahkan bangsa sendiri hanya kerana membincangkan soal perbahasan sejarah yang mungkin tidak sedap didengari oleh sesetengah masyarakat, begitu jugalah 'kotor'nya pemikiran masyarakat kita sekarang ini. Apa sahaja tindakan yang tampak tidak mengikut 'acuan' pasti akan menerima kritikan serta respon yang tidak menyenangkan. Paling tidak idea pembaharuan tersebut dikaji terlebih dahulu dan bukannya terus mengunci mulut individu tersebut dengan tindakan label-melabel dan seumpamanya yang pada pandangan saya bertujuan untuk assassinate character individu tersebut . Budaya sebegini dikhuatiri akan menjadi kudis yang bukan hanya merosakkan diri sendiri bahkan turut terjangkit kepada orang lain. Dan pada ketika itu yang akan kelihatan hanyalah sebuah masyarakat yang mundur dan jauh ketinggalan di belakang oleh masyarakat madani yang lain.

Kesimpulan

Pada saya, watak Cikgu Din merupakan satu sosok idaman yang menjadi harapan bagi bangsa dan negara. Kewujudan insan seperti ini pasti akan membawa sinar baharu dalam masyarakat kita. Tugas sebagai pembentuk generasi hadapan pasti terlaksana sekiranya sikap yang ada pada sosok tubuh itu terserap sama di dalam jiwa-jiwa para pendidik di luar sana. Setinggi-tinggi penghargaan saya titipkan buat saudari Nadia Khan atas karya ini. 

Akhir sekali, saya memohon seribu kemaafan atas kegagalan untuk membawa bersama-sama bukti atau sebarang sumber rujukan. Oleh itu, tidaklah menjadi sesuatu yang memalukan untuk dikatakan bahawa tulisan ini hanyalah berdasarkan sudut pandang saya semata-mata yang dilatari oleh pertimbangan terhadap beberapa pembacaan dan pengalaman, tanpa rujukan yang jelas. Justeru sangat diharapkan agar para pembaca dapat memberikan respon berkaitan apa-apa komentar yang telah saya ketengahkan ini.

Wassalam…

“Dalam menilai sesuatu, kita timbang baik buruknya. Kamu pernah jumpa penimbang yang betul-betul seimbang? Tak ada kan? Mesti berat ke satu arah, dan arah itulah pendapat sebenar kamu, sama ada kamu sedar atau tidak.”–Cikgu Din

Farid Hayati, 23 Oktober 2014.

* Penulis adalah graduan Program Pensijilan, Darul Quran JAKIM dan merupakan ahli IQRaC sesi 13/14. Sedang melanjutkan pengajian di Pusat Asasi Uni. Islam Antarabangsa Malaysia dalam bidang Sains Kesihatan Bersekutu.

* Ini adalah pendapat peribadi penulis dan tidak semestinya mewakili pandangan Intellectual Quranic Generation Club.

Linkie ♥

Popular Posts