Puisi Anak Muda

Anak Muda Inteligensia
Wahai Anak Muda Inteligensia
masa muda masa kita
masa muda Salehuddin Al-Ayubi membuka kota Al-Aqsa
masa muda al-fateh menaiki takhta
tapi kita bagaimana???
masa kita penuh dengan urusan dunia yg sia
sibuk dengan bola dan sinema
asyik dengan lepak dan bergembira
Wahai anak muda inteligensia
Dunia perlukan kita
Umat menanti kita
Apa guna ilmu di dada andai hafal kosong semata
Apa guna idea-idea hanya simpan tidak diguna
Sudah tiba masa kita ubah dan buktikan pada dunia
Anak muda inteligensia bukan biasa-biasa
Kita ini luar biasa
Ayuh keluar dari dunia kita yg sia dan meyumbang untuk mereka di luar sana
Isi masa dengan belajar dan membaca
Sumbang idea sumbang tenaga korbankan masa
Untuk diri dan umat semua
Ayuh anak muda intelegensia
Bangkit dari lena yang lama
Kita bangkit gegar dunia!




PEBGERTIAN DAN PERANAN INTELEKTUAL

Intelektual(cendekiawan) ialah individu berilmu dan memiliki rasa tanggungjawab untuk mencari dan mewujudkan “kebenaran” sesuai dengan cabaran dan tuntutan zaman.Komitmen mereka adalah untuk membentuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.Perkataan intelektual bermaksud memiliki atau memperlihatkan kekuatan-kekuatan kognitif dan daya pemahaman yang baik. Kata intellect pula bermaksud “kekuatan pemikiran yang menjadi alat penalaran”. Di samping itu, intellect juga bermaksud “orang yang mempunyai potensi berfikir secara sebenarnya”. Secara unmumnya,pengertian intelektual dapat disimpulkan sebagai “pemikir-pemikir” yang memiliki kemampuan menganalisis masalah-masalah tertentu.

               Dalam konteks pemahaman yang umum, intelektual sering diasosiasikan(baca:dikaitkan) dengan sarjana dan ilmuwan. Sarjana ialah orang yang lulus daripada institusi pengajian tinggi. Kuantiti mereka dalam masyarakat tinggi universiti melahirkannya setiap tahun. Ilmuwan pula ialah orang yang mendalami sesuatu ilmu dalam sesuatu bidang lalu mengembangkan ilmunya. Hanya beberapa orang sarjana akan berkembang menjadi ilmuwan. Sebahagian besar ilmuwan akan menjalani aktiviti harian yang berulang dan menjadi “tukang-tukang profesional”.

               Golongan intelektual tidak semestinya kelompok sarjana yang melalui pendidikan tinggi dan menyandang berbagai-berbagai gelaran akademik. Golongan intelektual juga bukan sekadar ilmuwan yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka ialah kelompok yang berasa tanggungjawab untuk memperbaik kondisi sosial dan melakukan bimbingan kepada masyarakatnya. Mereka memahami aspirassi massa serta merumuskannya ke dalam bahasa yang dapat difahami oleh setiap orang dan menawarkan strategi dan alternatif untuk menyelesaikan masalah. Walaubagaimanapun,pengertian intelektual ini bervariasi kadangkala bercanggah serta kesepakatan mengenainya.

               Menurut James Maccregor dalam bukunya Leadership,intelektual ialah “a devotee of ideas,knowledge and values” atau seorang yang terlibat secara kritis dengan nilai,tujuan dan cita-cita yanh diperjuangkan. Sementara George A. Theodorsan dan Archillies G. Theodorson dalam buku A Modern Dictionary of Sociology mendefinisikan intelektual sebagai “anggota masyarakat yan mengabdikan diri kepada pengembangan gagasan asli dan terlibat dalam usaha-usaha intelektual kreatif. Kaum intelektual merupakan sebuah segmen yang kreatif dari lapisan inteligensia. Mereka memberikan kepemimpinan intelektual kepada lapisan intelegensia lainnya.”

               Seorang ahli sosiologi tersohor, Edward Shills yang terkenal dengan kajian-kajiannya tentang tentang dunia intelektual menyatakan bahawa intelektual ialah orang-orang terpilih dalam masyarakat yang sering menggunakan simbol-simbol bersifat umum  dan rujukan abstrak tentang manusia,masyarakat,alam dan kosmos. Lebih lanjut lagi Shills dalam tulisannya The Intellecttuals and the Powers: Some Perpective for Comparative Analysis, menyatakan bahawa kaum intelektual ialah orang yan mencari “kebenaran”,mencari prinsip-prinsip yang terkandung dalam kejadian-kejadian serta tindakan, atau dalam proses penyaluran hubungan baik antara peribadi(the self) dan hakikat(the essential), baik hubungan yang bercorak pengenal(cognitive), penilaian(appreciative) atau pengutaraan(expressive). Menurut Shills lagi,tugas intelektual ialah “mentafsirkan pengalaman masalah, mendidik pemuda dalam tradisi dan ketrampilan masyarakatnya;membimbing pengalaman estetik dan keagamaan dalam berbagai-bagai lapisan masyarakat”. Bagi Lewis Coser pula dalam tulisannya Man of Ideas, intelektual ialah orang yang kelihatannya tidak pernah puas menerima kenyataan sebagaimana adanya. Mereka mempersoalkan kebenaran yang berlaku pada suatu ketika dalam hubungannya dengan kebenaran yang lebih tinngi dan luas.

               Daripada beberapa pengertian tersebut, terlihat bahawa intelektual berbeza dengan inteligensia tersebut. Pada umumnya inteligensia  dirumuskan sebagai “oran terpelajar”, khususnya individu yang menamatkan pengajiannya di universiti. Tentang perbezaan intelektual dan intelegensia memiliki minat intelektualnya yang secara fundamental bersifat “teknik”, sedangkan intelektual memiliki minat intelektual yang umumnya kritis,abstrak,hermenutik dan politik. Dengan demikian, jelas bahawa intelektual tidak sama dengan inteligensia. Intelektual, boleh jadi bukan lulusan universiti dan mungkin saja berkelulusan sekolah rendah. Namun begitu mereka mampu mengembangkan pemikirannya, mampu berfikiran bebas, mencakup pengamatan yang cermat terhadap gejala-gejala di sesuatu lingkungan, pemahaman tentang sebab gejala itu dan hubunnganya dengan gejala lain. Pada akhirnya,seseorang intelektual akan merumuskan sesuatu kesimpulan yang daptat disampaikan kepada masyarakat dalam bahasa yang jelas.[1]

               Sehubungan dengan penerangan di atas,maka puisi ini ditulis untuk mengajak anak-anak muda terutamanya golongan mahasiswa(yang bakal menjadi sarjana) untuk menyedari hakikat sebenar menjadi golongan inteligensia bukan hanya menjadi ‘hasil kilang’ universiti(baca:menjadi pekerja semata-semata) tetapi menjadi golongan inteligensia yang membawa makna intelektual yang sebenar yang mampu menjadi agen penyemai yang baik untuk merawat masyarakat yang semakin rosak membusuk hasil baja-baja  modenisasi hari ini. Mejadi golongan ‘inteligensia yang berintelektual’  ini bukan hanya tugas ‘kesukarelawanan’  tetapi mejadi tangungjawab kepada setiap mahasiswa pelbagai bidang baik agama mahupun profesional. Akhir kata.baca,hayati dan fahami petikan ini:

                              ‘Golongan intelektual tidak semestinya kelompok sarjana yang melalui pendidikan tinggi dan menyandang berbagai-berbagai gelaran akademik. Golongan intelektual juga bukan sekadar ilmuwan yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka ialah kelompok yang berasa tanggungjawab untuk memperbaik kondisi sosial dan melakukan bimbingan kepada masyarakatnya. Mereka memahami aspirassi massa serta merumuskannya ke dalam bahasa yang dapat difahami oleh setiap orang dan menawarkan strategi dan alternatif untuk menyelesaikan masalah’

Semoga Allah merahmati kalian.Wallahu’alam.Sekian

Adam Nasir,24 Oktober 2014

*ex-I.Q.RaC 13/14 dan sekarang menuntut di CFS IIUM,PETALING JAYA dalam bidang undang-undang.



[1] Dipetik daripada buku Shaharom TM Sulaiman,Dunia Pemikiran Intelektual:menelusuri karya-karya intektual terpilih, ‘Pengertian dan Peranan Intelektual’.

2 comments

persoalan yg amat penting dihadam dan ditelusuri oleh ahli IQRAC.

jgn2 kita ketinggalan intellectual, juga Quranic. Jika demikian, rugilah ummat ini.

Ad beberapa typo...hehe. btw nice one:)


EmoticonEmoticon